Wednesday, March 23, 2011

Papa

iTunes saya memainkan lagu yang mengingatkan saya ke orang yang sangat saya cintai. Orang yang menyayangi saya tanpa syarat dan alasan apapun. Saya memanggilnya Papa. Lagu ini berjudul 'Dance with My Father Again', saya harus menyanyikannya bersama dia suatu saat. Saya tidak tahu berapa banyak post yang saya tulis tentang dia, tapi saya benar-benar merasa sangat hancur sekarang, saya memang selalu sedih setiap kali saya memikirkan dia, bagaimana dia dulu, sekuat apa dia dulu, seceria apa dia dulu...

Saya ingat waktu hal menyedihkan ini terjadi pada dia. 12 May 2009. Ya sejujurnya saya agak lupa tanggal berapa, kalau tidak salah memang tanggal 12. Saya sedang berada di kamar, texting with my ex, sampai suatu saat mama saya menelepon dan bilang bahwa papa sedang jalan pulang. Kata mama, "Papa pusing, mau tidur, tapi sampai nggak bisa jalan. Kamu tolong liatin ya." saya cuma bilang, "iya", karena papa saya memang sering pusing, jadi saya juga tidak ada pikiran buruk.

Lalu saya mendengar ada langkah kaki orang di depan kamar. Saat saya membuka pintu, saya melihat punggung Papa yang berjalan di depan saya, menuju kamarnya. Saya benar-benar masih ingat baju apa yang dia pakai saat itu. Dia jalan dengan susah payah, bersama dua orang yang membantu dia berjalan di samping dia. Saat itu saya memang bingung, kok tumben sampai dipapah begitu jalannya. Tapi saya tidak terlalu ambil pusing. Saya benar-benar tidak tahu itulah saat terakhir saya melihat dia jalan normal, dan saya cuma melihat punggungnya. Saat dia masuk ke kamar, saya menyesal saya tidak langsung melihat keadaannya, saya malah masuk lagi ke kamar. Kalau saja saya tahu kalau stroke sedang menyerang papa saya, saya akan langsung membawanya ke rumah sakit! Lalu mama menelepon saya dan menyuruh saya melihat bagaimana kondisinya. Saat saya melihatnya di kamar, dia tidur. Saya pikir dia memang hanya butuh istirahat karena dia memang sering pusing dan tidur, setelah itu keadaannya akan membaik. Lalu, lagi-lagi, saya mengunci diri saya di kamar, sampai akhirnya saya mengecek kamarnya lagi dan mendapati mama saya sedang duduk di samping dia, dengan oom saya. Papa saya masih tiduran, dia mencoba berbicara, tapi bicaranya pelo. Kami masih tidak tahu kalau dia terserang stroke. Kami malah berpikir ke hal-hal yang mistis, yang saya akui, memang bodoh kenapa terpikirnya ke situ. Saya tidak menangis pada saat itu, tapi saya takut. Lalu dia bangun, kami membantunya menuruni tangga, dia mencari kertas dan pulpen dan mencoba menuliskan apa yang dia rasakan, tapi ternyata tangan kanannya sudah tidak bisa menulis. Papa saya kesal saat itu, dia langsung memukul meja keras-keras. Lalu akhirnya kami membawa papa saya ke dokter yang jauh, dokter alternatif, dan ternyata saat itu dokternya tidak ada. Sama sekali tidak terpikir untuk langsung membawanya ke rumah sakit. Sebenarnya saya menyesal kenapa saya tidak langsung menyuruh mama saya untuk membawanya ke rumah sakit, dan sudah berapa kali saya menghibur diri sendiri dan berkata mungkin memang sudah jalannya begitu. Saat malam tiba, barulah kami membawa papa saya ke Carolus, dan itu sudah tujuh jam, dan semuanya sudah terlambat. Keterlambatan tujuh jam yang membuat papa saya masih merasakan siksanya sampai detik ini.

St. Carolus, Jakarta. Pertama Papa saya berada di Unit Gawat Darurat dengan selang infus di tangannya dan oksigen di hidungnya. Dan benar saja, suster mengatakan bahwa Papa saya terserang stroke dan sudah terlalu terlambat ditangani. Akhirnya Papa saya diopname di kelas dua karena VIP dan VVIP class sedang penuh saat itu. Saya lupa nama kamarnya bahkan di lantai berapa, tapi saya ingat tempat tidurnya berada di dekat pintu masuk, dengan tiga pasien lainnya. Papa saya memberontak saat dia tahu dia akan diopname, mungkin dia ingin mengatakan bahwa dia tidak perlu diopname, dia akan sembuh dengan sendirinya, atau dia tidak mau merepotkan kami. Apalagi saat saya dan mama mau pulang, kakak laki-laki saya yang saya panggil Ko Andre lah yang menjaga papa. Saat itu kakak perempuan saya, Ci Lian, sedang berada di luar kota. Papa saya benar-benar memberontak, ingin melepas selang infus untuk ikut kami pulang, sebenarnya saya juga sangat amat berat hati meninggalkan dia di rumah sakit walau ada Ko Andre yang menemani dia. Saya pikir hanya butuh waktu beberapa hari untuk menyembuhkannya, tidak terpikir bahwa itu baru awal.

Jujur saja saya juga tidak ingat prosesnya dari hari ke hari. Yang pasti dia melewati hari-harinya dengan tidur terus dan menerus, mungkin dia berharap ini semua cuma mimpi dan saat dia bangun, dia sehat. Tapi saya ingat bagaimana hancurnya perasaan saya saat Ci Lian pulang dari luar kota, dia pulang lebih awal dari jadwalnya setelah mengetahui keadaan Papa. Dia langsung memeluk Papa dan menyuapi Papa makanan. Saat itulah pertama kali saya melihat Papa saya menangis dengan keras di depan anak-anaknya. Saya tidak tahu apa yang dia tangisi saat ini. Apa karena terharu saat Ci Lian menyuapi dia? Atau karena menangisi keadaannya?
Saya ingat bagaimana dia berusaha untuk bilang bahwa dia tidak mau diinfus, dia mengisyaratkan kami bahwa dia mau makan normal saja, tapi ternyata infus tidak bisa dilepas. Dia juga tidak mau makan, dia berusaha memberi tahu kami kalau perutnya sakit, dan ternyata memang asam lambungnya naik tanpa kami tahu. Namun setelah itu, dia tetap tidak mau makan, bahkan untuk minum susu saja tidak mau, akhirnya mau tidak mau suster memasang selang dari hidungnya. Saya tahu rasanya pasti sakit sekali saat dimasuki alat itu. Dia mencoba untuk mencabut selang itu berkali-kali, dan ya, akhirnya memang tercabut dan tidak dipasang lagi.
Saya juga ingat saat itu hanya ada saya di rumah sakit karena Ko Andre pulang ke rumah untuk istirahat. Dokter Parlin, dokter yang menangani Papa, menjelaskan ke saya tentang hasil scan MRI Papa saya. Saya melihat hasil scan yang mengecewakan, mendapati 70% otaknya telah tersumbat, dan sampai saat ini belum pulih. Saya ingat kalimat pertama yang dia ucapkan setelah berhari-hari diam, yaitu 'Telor', saya benar-benar senang walau cuma itu yang dia ucapkan dan bukan itu yang sebenarnya ingin ia ucapkan (apa yang di otak dan yang keluar dari mulut berbeda).

Lalu akhirnya, setelah kira-kira tiga hari berada di kelas dua, ada juga kelas VIP yang kosong. Papa saya langsung dipindahkan ke sana. Keadaannya membaik di ruang itu, mungkin dia agak stress berada di ruang kelas dua yang hanya ada tirai putih di mana-mana. Tangannya diikat di kasur saat itu karena papa suka memberontak dan melepaskan selang makanan di hidungnya. Saya ingat saat saya diceritakan oleh mama saya (yang mama saya tahu dari suster), bahwa Ko Andre meminta suster untuk mengikat tangannya juga di atas tangan Papa saya yang terikat itu, entah supaya dia akan terbangun kalau Papa saya memberontak saat dia tidur, atau agar Papa saya merasa tidak sendirian, tapi sampai sekarang saya salut dengan perbuatan Ko Andre saat itu. Saya menemani Papa setiap hari, kebetulan saat itu saya libur kelulusan dan belum masuk ESMOD. Saya ingat, waktu itu saya bilang, "Papa tenang ya, Papa mah pasti sembuh deh sebelum ESMOD mulai, Papa temenin first day ESMOD kan?", dan tidak menyangka bahwa dia masih sakit sampai detik ini, bahkan setelah saya pindah LaSalle. Kalau memang harapan saya itu terlalu cepat, saya harap keinginan dia untuk menghadiri wisuda saya tahun depan itu wajar.

Papa saya diopname kurang lebih satu bulan, sampai akhirnya diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Dia benar-benar tidak bisa berjalan, saya bersyukur sekarang dia bisa berjalan walau pakai tongkat. Saat itu dia benar-benar seperti tidak punya tulang. Bahkan untuk turun dari tempat tidur ke kursi roda pun benar-benar harus digendong.

Itu saat-saat yang paling berat dalam hidup saya. Tapi saya yakin mama saya jauh lebih sedih pada saat itu.

Saya tidak ingat berapa kali mama saya menanyakan kapan Tuhan menjawab doa-doa yang sudah ia panjatkan tiap hari demi kesembuhan papa. Saya hanya bilang pada mama untuk sabar karena Tuhan punya waktuNya sendiri, dan memang benar begitu. Tapi di sisi lain, saya juga menanyakan hal yang sama. I am so tired with it. Seriously, how many droplets of tears I have to shed more? Dan jujur saja, saya sudah putus asa mendoakan doa yang masih belum terjawab. It seems like I'm screaming my prayers in the water where none hears because it turns into bubbles of hope, but every time I reach it, my fingers destroy it. Saya sudah lupa berapa ratus kali saya menyuruh diri saya untuk bersabar sampai akhirnya saya muak untuk menyuruh diri saya sabar lagi. Dan di sisi lain, saya masih bertanya-tanya, kapan semuanya selesai? Sampai kapan saya harus bersabar?
I wish I had time machine and skipped this moment.


Saya jadi ingat waktu saya masih kecil. Saya suka bergelantungan di lengannya yang kuat, menjadikannya sebagai ayunan. Saya suka bersembunyi di balik pintu dan mengagetkannya setiap kali dia pulang kerja. Saya tertawa setiap kali melihat dia kaget. Saya ingat waktu dia memasak makanan untuk saya, bahkan di saat dia ngantuk sekali pun. Saya sangat suka nasi goreng buatan Papa saya, dan sekarang saya benar-benar ingin mencicipinya. Tapi saya lebih ingin melihat dia berada di dapur, memasak nasi goreng itu. Bahkan dia belum sempat memberi tahu saya resepnya.

Papa saya orang yang sangat ceria, terlebih waktu dia bernyanyi di home theater. Dia suka bernyanyi dan saya akui suaranya pun tidak jelek. Dia menyanyikan lagu yang sama setiap hari. Jujur saja, saya benar-benar ingin dia berhenti bernyanyi saat itu, saya sudah sangat bosan dengan lagunya, saya merasa terganggu dengan suaranya. But now, I'm dying to hear my Papa sing again. Saya berharap saya keluar dari kamar saya dan mendapati dia sedang bernyanyi dan menari di home theater. Saat dia menyanyi lagi nanti, I will give all my ears and attention to hear him sing those songs again. Saya tahu, dia suka menari sambil bernyanyi, dia jarang sekali duduk saat menyanyikan lagu favoritnya. Dia menari sendirian. Next time, I will be with him, saya akan ikut menari bersama dia, bukan mengunci diri saya sendiri di kamar. I wish I could go back and see you danced and sang, even just once, I really miss you singing. Even sometimes silence echoing your voice.

Tidak hanya nyanyiannya, saya juga rindu mendengar tawa dari mulutnya. Dan sekarang, saya bisa menghitung dengan jari berapa kali ia tersenyum dalam sehari. Ironisnya, dia tersenyum karena dia mencoba apa yang ingin dia katakan tapi gagal lagi dan lagi, akhirnya dia tersenyum sambil melambaikan tangan, maksudnya 'ya sudahlah lupakan'. Tapi saya tahu dia merasa sangat sedih di balik senyumnya itu. I know he is crying in his laugh.

Saya ingat sebenarnya dia sering mencoba untuk mengajak saya tertawa dulu dengan lelucon-lelucon yang sebenarnya tidak mampu membuat saya tertawa, dan akhirnya saya hanya tertawa kecil, saya tidak tahu apakah dia tahu tawa itu saya paksakan atau tidak. Tapi kalau dia sadar bahwa tawa itu paksaan, dia pasti merasa sedih sekali dalam hati, dan saya sangat menyesal kenapa tidak lebih serius menanggapi ajakan candaannya dulu.

Saya tidak menyangka bahwa dia akan kesulitan berbicara, bahkan untuk memanggil nama saya. Saya akan mendengar semua kata yang ia ucapkan saat ia sudah bisa berbicara dengan lancar. Setiap filosofi yang dulu sering saya acuhkan, setiap nasihat yang sering saya bantah, apapun yang keluar dari mulutnya, saya tidak akan melewatinya begitu saja. If only he knew that I miss his voice... setiap hal-hal kecil yang keluar dari mulutnya: "Hati-hati ya", "udah nyarap?", "ganti bajunya yang bener!", "usahakan bangun pagi biar sempet sarapan", "bangun pi, sekolah!". Kata-kata yang ternyata berhenti sampai saya lulus SMU. I'm dying to hear his voice again, says those words, it has been almost 2 years, I'm waiting you to say my name clearly. Tapi saya yakin saya akan mendengar kata-kata itu lagi dari mulut dia, someday, as soon as possible.

Anyway, I wrote a post about him, approximately 5 months before he got stroke here. I was using English, sorry for my bad english at the moment, but I don't think you can read it if you're not a friend of mine on Facebook, so I copied the text here:


my dad is my hero..

when i was a child..
he cried a lot when i almost died when i was a baby..
he felt hurt when his finger is bleeding but he told me that i don't have to cry..
he laughed when i tried to scare him when he go back to home from his work..
he apologized me when i angry to him because of my own mistake although i didn't ask for it..
he always hugged me when i cried..
he taught me how to draw beautifully before i can walk perfectly..
he taught me how to walk..
he taught me how to write an alphabet by alphabet, a number by number..
how patient he is..

now..
he loves to make a breakfast although it just a bowl of noodle or something simple like that, but i love it..
he cooks for me every morning and every evening..
he asks me what i want to eat for today..
he still prepares a medicine for me when i sick..
he wants to wake up although he's so sleepy and wants to sleep just for make a dinner for me..

and..
he does his job although i know he doesn't like it..
he entertains me when i sad..
he apologizes me when i do something wrong..
he angry to me when i do something very wrong and not good for myself but he always ask an apologize to me even it's my fault, not his fault..

i don't know what i have to say,
i love him so much..
but i can't show how much i love him in front of..
maybe he can hear what my heart says..

love you so much, papa :)

(oleh @selphieusagi di http://selphieusagi.blogspot.com/2011/02/papa.html)

3 comments:

  1. ka Theo, membaca tulisan ini membuat air mata tak bisa saya tahan.. betapa luar biasanya Papa untuk seorang anak gadisnya :')
    semoga Papa Selphie bisa segera pulih ya kak :)
    God bless him always

    ReplyDelete
  2. #terharu .. salam hangat dari saya untuk papamu ya:)ajak terus papa tertawa -- hati yang gembira adalah obat.. semoga lekas sembuh.

    ReplyDelete
  3. Kak Theo, makasih banyak ya udah dimuat :)

    @beStrong @Febiantika
    iya :') makasih ya., I hope the same thing too, hope he gets well really soon... amiiin... thanks yaa :')

    ReplyDelete