Wednesday, March 23, 2011

Harapan, Ilusi, Mozaik Mimpi


"You're the most beautiful daughter a father can have."

"Thank you, Daddy. But I think you don't have the privilage
to say that, since we shared the same genes."

Hai, Pa.

Empat belas tahun sejak usiaku tujuh tahun.
Mengapa aku tiba-tiba mengingatnya?
Ada satu yang mengganjal sebenarnya, Pa. Aku penasaran.

Apakah kecintaanku pada langit malam, bintang, dan juga lampu kota ini karena Papa sering mengajakku melihatnya?

Pa, aku hafal letak rasi Orion, Biduk, Scorpio, Layang-layang. Semuanya.
You name it. 
Aku tahu mengapa di langit, Scorpio tak pernah bertemu dengan Orion.

Aku hapal kalau Antares berwarna merah dan Altaire berwarna biru.

Lalu pemandangan yang paling aku cari hingga hari ini,
tetaplah langit malam, bintang, dan lampu kota.
Itukah alasan mengapa Mama jatuh cinta padamu?

Karena wanita selalu menyerah pada segala hal yang indah.

Dan malam itu, di usia tujuh tahun, aku ingat betul. 

Beberapa hari sebelum keberangkatan aku dan Mama ke negeri
sebrang untuk menemani Mama menimba ilmu. Papa mengajak
aku dan Mama kembali melihat langit malam, lampu kota, dan
bintang. Aku ingat betul tempatnya.

Lalu Papa berkata, "Besok-besok, kamu nyanyi disini,ya."
Perkataan itu adalah sebuah harapan. Ilusi. Mozaik mimpi.
Atau versi sarkartisnyanya, mustahil. Tapi Pa, doamu sungguh ajaib.
Di usiaku yang ketiga belas, aku bernyanyi disana, Pa.


Dan Pa, tahu nggak? Pemandangan paling indah malam itu bukan langit,

bukan bintang, bukan lampu kota Bandung.
Tapi ketika Papa melingkarkan lengan di bahuku,
dan aku melingkarkan lengan di pinggangmu sambil bersandar.

Lalu kita bicara. Entah tentang apa saja. Aku tak peduli.

Putrimu,
Laras



Bella.Notte


No comments:

Post a Comment