Tuesday, March 22, 2011

My Dad, My Hero

Banyak cerita bagaimana seorang Papa menjadi “pahlawan” bagi saya. Mungkin sama seperti @perempuansore, dia adalah cinta pertama. Dan saya selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti suami saya harus seperti Papa. Sulit mungkin menemukan laki-laki yang gigihya seperti beliau, di luar sifat perfeksionis dan keras kepalanya.
Mari flashback ke beberapa tahun yang lalu, di saat saya masih menggunakan seragam putih abu. Papa dengan setia membangunkan saya dan si adik, membuatkan kami bekal, dan mengantar serta menjemput kami berdua. Setiap hari.
Suatu hari Papa datang menjemput ke sekolah dengan raut wajah yang agak berbeda. Saya yang kesal karena dijemput terlambat, seperti biasa juga ngomel-ngomel dan ngedumel kecil. Lalu Papa bilang, kalau Papa baru saja ditabrak motor di perempatan jalan Pasirkaliki, lututnya berdarah dan di beberapa bagian motornya penyok. Saya tercengang kaget. Beliau bisa saja menelepon saya dan meminta saya untuk ke rumah sakit, tapi Papa ternyata masih melanjutkan perjalanannya ke sekolah untuk menjemput saya. Hari itu saya lupa bilang, “terimakasih ya Pa.. aku sayang banget sama  Papa. Maaf kalau aku udah marah-marah.”
My Dad, My Hero. Yes. Indeed. Papa dengan segala rules-nya, dengan segala sikap protektifnya, dan kalau saya membantah, dia biasanya bilang: “coba kalau kamu jadi orang tua, kamu pasti tau kenapa Papa bikin aturan kayak gini.”
Banyak cerita tentang Papa, tapi pastinya banyak juga air mata yang akan terkuras setiap mengingat bagaimana Papa lagi, dan lagi menjadi seorang pahlawan dalam hidup saya.
Ich vermisse dich, Papa.

My Pure Expression

sebenernya ini tulisan lama, kira kira pas gw semester satu hehe sekarang alhamdulillah akan menginjak semester tiga dalam waktu beberapa minggu ini.

gw cuma mau nulis apa yang ga bisa gw ungkapin..
haha gaya ya gw, tapi memang begitu adanya. Gw jarang sekali bisa mengungkapkan apa yang gw rasain, terlebih klo itu menyangkut orang tua gw, yaa mungkin sifat kurang terbukanya gw ini yang bikin gw sering dianggap sebagai orang yang cuek hehe

Jadi gini ..
setelah gw membaca buku keduanya ANDY F. NOYA, dari sekian macam bagian kehidupannya om andy, ada satu bagian yang gw suka, bagian dimana om andy menceritakan tentang AYAH. Dibagian tersebut ada kata-kata yang menurut gw lumayan menyentuh..

Om Andy : "Hidup begitu singkat. Kadang kita merasa tidak saling membutuhkan, tidak saling mencintai, sampaimaut akhirnya memisahkan kita. Akan lebih berarti wujud cinta yang kita perlihatkan pada orang orang tercinta ketika mereka masih hidup, ketimbang air mata yang tumpah dipusaran yang tidak lagi bermakna"

Ayah..
sosok laki-laki berumur 50tahun keatas, dengan muka yang mulai berubah menjadi kerutan-kerutan yang menggambarkan betapa ia sudah semakin tua. Banyak kejadian yang gw alami bersamanya, entah berapa banyak. Tapi tak pernah sekalipun gw mengatakan "kana sayang ayah". Miris bukan ??
Anak macam apa gw, untuk mengatakan hal seperti itu aja gw ga bisa, gw malu, seakan-akan gw ga peduli. Yaa gw tau kenapa gw seperti itu, karena gw menganggapnya dengan atau tidaknya gw mengatakan hal tersebut, toh tidak akan mengubah apa-apa.

Gw selalu iri disaat gw melihat teman-teman gw yang bisa bencengkrama sebegitu bebasnya dengan ayah mereka, bisa berjalan-jalan bersama, bisa menggandeng tangannya, atau hanya sekedar mencium kedua pipinya. Tapi gw ga mau bohong, gw pun pernah melakukan hal-hal tersebut, gw pernah menggandeng tangan beliau tetapi hanya ketika kami akan menyebrang jalan, gw pernah mencium kedua pipi beliau tetapi hanya ketika kami selesai melaksanakan sholat berjamaah atau ketika beliau hendak pergi dinas. Yaa hanya tetapi, tetapi dan tetapi.

Dalam hati ini berkata : " Kana sayang ayah, walupun tidak pernah sekalipun aku mengucapkannya, sayang aku ke Ayah sama besar dengan sayang aku ke Mamah, Gigih dan Abi. Terima kasih sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup aku. Ketika datang saatnya nanti, Insya Allah aku akan membahagiakan mereka ya ALLAH. "
Amin

Ayah Tak Pernah Menangis

Membaca project anak perempuan dan ayahnya, jadi teringat saat waktu yang panjang bersama ayah selama beberapa puluh tahun ini. Ayah selalu memperlakukan aku sebagai putri kecilnya meskipun sekarang aku telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Ia selalu mengirimkan pesan pendek ataupun menelfonku ketika aku belum kunjung pulang kerumah padahal hari sudah malam. Ia selalu masih mencium dahiku ketika ia hendak pergi bekerja. Ia juga masih selalu memanjakanku ketika aku sakit dan selalu mempermainkanku seakan aku adalah gadis kecilnya yang berumur 7 tahun .

Sangat hangat sekali punggungnya, saat ia menggendongku yang sakit dengan paniknya, punggung yang hangat dan nyaman yang selalu aku rindukan setelah aku sadar sekarang ayah tak mungkin menggendongku lagi karena aku sudah tumbuh besar. Ayah selalu bilang ia tak akan pernah menangis setelah masa kecilnya yang menyedihkan telah banyak membuatnya menangis di dalam hati. Ia adalah ayah yang hebat, ayah yang dibesarkan oleh seorang ibu single parents yang ditinggalkan ayahnya. Aku masih ingat ketika ayah bercerita masa kecilnya yang menyakitkan ia tersenyum, dan berkata padaku "ayah tidak akan membiarkan kamu merasakan hal yang pernah ayah rasakan dulu, ayah tak akan pernah meninggalkanmu". saat itu aku yang menangis, aku memeluknya tapi ia hanya berkata, jangan cengeng ayah disini, dan ayah tak menangis.

Aku masih ingat saat aku sakit, tubuhku tak bisa digerakan dengan normal karena pembekuan darah, mama membawaku ke RS, saat itu ayah tak sedang dirumah dan mama menelfonnya untuk segera datang ke RS. Aku yang merasa antara hidup dan matipun ingin sekali melihat kedua orang tuaku ada ditempat agar apabila tuhan mengambil nyawaku saat itu aku tenang ada kedua orang tuaku disana. dan tak lama ayah datang. Keringat di dahinya dan tanggannya yang kedinginan menggenggam tanganku. Aku mengucap satu kata saat itu ku katakan "ayah". Ia kemudian melepaskan tangannya dariku, dan pergi entah kemana bersama ibuku ketika perawat itu membawaku keruangan lain.

Setelah aku sembuh, mama yang menungguiku, ia berkata, "aku baru pertama kali melihatnya menangis, ketika kau sakit". aku terhentak, ayahku yang tak pernah menangispun menangis karnaku saat itu?. "ia merasa gagal ketika melihat kau terbaring tak berdaya dirumah sakit ini, ia merasa tak berguna ketika tidak bisa membuatmu lebih baik". mama berbicara lagi padaku.
aku terdiam dan menangis, "ayah" ingin sekali kau ada disini, ingin sekali aku meminta maaf telah membuatmu kawatir sampai kau menangis, Tuhan aku ingin sekali memeluknya.

Dan kau tau apa doanya saat itu, ia berdoa pada tuhan "pindahkanlah rasa sakit yang anakku rasakan padaku, aku sangat iklas". Ayahku yang tak pernah menangis, kau tau, aku sangat mencintaimu terlebih dari kau mencintai aku. Terima kasih telah menangis untukku, ayah.


25 Tahun

Jam dinding baru saja berdentang 12 kali. Sudah berganti hari rupanya. Sudah jadi 21 maret. Ah, ini hari kesukaanku.

Sudah 25 tahun sejak 1986.

Sekarang ini sudah masuk tahun ke-25ku. Rasanya tak banyak berubah. Aku masih berteduh dibawah atap yang sama dengan Romo. Sama seperti pada tahun 1986. Juga seperti di tahun 2000 kemarin. Tapi pada kenyataannya, sudah ribuan detik yang berlalu. Dan banyak yang tak lagi sama.

Satu yang tak berubah. Aku masih dan selalu jadi anak perempuan kecil Romo. Yang selalu mencari dan memanggil Romo. Masih jadi anak kecil manjanya Romo.

Sudah 25 tahun Romo terus bimbing aku. Di wajahnya se karang sudah mulau tampak raut-raut lelah. Tapi belum pernah aku lihat beliau putus asa. Aku iri dengan keteguhan hatinya. Aku sendiri mungkin sudah akan menyerah saat tersandung batu pada langkah ke-10 dari ribuan langkah perjalanan panjang yang harus aku tempuh.

Aku sering sekali ingin menangis melihat gurat-gurat letih beliau. Rasanya ingin aku gantikan saja posisinya. Biar Romo bisa bersantai saja dirumah. Bermain rubik, atau bercanda dengan kucing-kucing kesayangannya. Tapi nyatanya, sampai hari ini aku masih belum bisa. Aku masih lemah. Aku masih gagal.

Ah, mengingatnya saja sudah membuatku berlinang air mata.

Romo itu tempat berlabuhku. Entahlah bagaimana jadinya aku tanpa beliau. Mungkin jalanku akan terseok-seok. Aku pasti tersesat di dunia ini. Kalau tanpa tuntunannya, dan 25 tahun hidupku yang sudah dibangunnya dengan sempurna, aku pasti sudah terkapar, tak berdaya, duduk menangis meraung-raung di tepi jalan. Kehilangan arah. Tak punya petunjuk. Aku tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Tidak hari ini, tidak juga besok. Sampai kapanpun juga tetap tidak. Tak peduli berapapun usiaku nanti.

Di mataku, Romo masih tetap tampan, masih gagah. Begitu aku selalu memandangnya. Selalu buat aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada keabadian cintanya yang ditumpahkan padaku. Aku ingin terus bisa menjaga cinta itu. Selamanya. Terhitung sejak denyut nadiku yang pertama, hingga yang terakhir.

Ada tidak ya yang mencintaiku seperti Romo? Apa ada yang bisa membuat aku merasa dicintai dan menjadikan aku ingin terus mencintainya tanpa henti seperti yang aku selalu rasakan dari Romo? Kalau ada, aku akan kenalkan pada Romo. Dan aku akan genggam tangannya tak kalah erat dengan milik beliau.

Ini 21 maret 2011. Ini ulang tahunku yang ke-25. Rasanya aku ingin memeluk beliau, lalu mengatakan, "Aku sayang Romo. Terimakasih sudah membuat roda kehidupanku terus berputar tanpa henti."














Sunday, July 4, 2010

Tentang Papa

Aku ingat ketika tubuhku masih sangat tipis. Rata dari atas sampai bawah. Rata juga dari samping kiri ke samping kanan. Ini karena seorang anak permpuan yang duduk di seberang mejaku. Ia persis seperti sosok aku 16 tahun lalu. Kacamatanya merah, rambutnya lurus sampai melewati bahu, poninya tipis menutupi dahi. Badannya juga kurus, tipis, rata semua. Ia menggenggam buku berwarna pink. Kakinya bergoyang-goyang. Matanya lekat menatap halaman bukunya. Hihi, itu aku, gumamku dalam hati. Seorang laki-laki paruh baya duduk di sampingnya, juga sedang menggenggam buku. Biru dan tebal bukunya. Sang ayah, pikirku.


Pemandangan ini membawa mesin waktu pikiranku kembali ke tahun 1994.

Aku, 7 tahun. Kacamata merahku agak terlalu besar, sehingga sering melorot sampai ke hidung. Mataku pun sering kusipitkan supaya bisa lihat lebih jelas. Buku komik tak pernah lepas dari tanganku. Papaku, ia mirip denganku. Ia suka membaca apa yang kubaca. Kami seperti teman. Aku sering mencela papa yang suka baca sambil tiduran. Ia selalu bilang, meskipun agak terlambat karena mataku saat itu sudah keburu rusak, "Cia-cia! Jangan baca tiduran!" Yah, tapi aku cela papa yang juga suka baca komik Sailormoon-ku sambil tiduran. "Papa nggak baca, cuma lihat gambar!" kata papa ngeles setelah kucela. Yah, inilah satu hal berguna yang kupelajari dari papa.Ngeles. Menghindar.

Papa, (mungkin) 30 tahunan. Tubuhnya tinggi, kurus. Semua orang memanggilnya 'tiang listrik'. Kacamatanya besar. Bingkainya berwarna hitam. Tapi papa selalu pilihkan kacamata bingkai merah untukku. Yang juga besar, sampai hampir menutupi mukaku. Meskipun begitu, aku percaya papa. Aku percaya taste-nya. Papa selalu punya selera bagus untuk segala hal. Itu menurutku dulu. Meskipun kalau sekarang kulihat lagi fotoku umur 7 tahun, uh, tolong jangan bicarakan ini, okay?

Aku, sekarang, 22 tahun. kacamataku tidak lagi merah. Papa tak pernah kuijinkan lagi memilihkan kacamata untukku. Tapi badanku masih sama, rata dari atas sampai bawah. Rambutku kupotong pendek, tidak lagi melebihi bahu; poniku masih ada. Ini untuk menyamarkan kelebihan dahiku yang jenong turunan mama. Tubuhku lebih tinggi. Sekarang, papa bukan 'tiang listrik' lagi bagiku. Tinggi kami hampir sama. Padahal, aku ingat sekali papa suka membanggakan tinggi badannya yang hampir 2 meter. "Yah, 25 cm lagi sih, Pah!" pikirku. Sekarang, ini yang dikatakannya, "Wah, tinggi Cia-cia hampir nyusul papa luh!" Hihi. Lihat kan, papa tidak terlalu tinggi lagi sekarang.

Papa, sekarang 51 tahun. Badannya lebih gemuk. Tidak lagi pakai kacamata, karena matanya sembuh secara ajaib, gara-gara baca alkitab terus waktu di penjara. Hebat! "Ini Tuhan yang sembuhin!" kata papa tersenyum lebar, mempertontonkan gigi depannya yang ompong satu. Gigi palsunya sudah tidak dipakai lagi. Hihi. Tidak bisa lagi membuatku (pura-pura) tertawa dengan lelucon gigi palsunya dulu. Tapi papa tetap papa, dia tak pernah kehabisan lelucon, meskipun gigi palsu telah lama dibuang. Cara tertawanya masih sama, cuma hatinya telah berbeda. Sejak ia sayang Tuhan, segala yang ada pada papa dulu terlihat berbeda. Meskipun, tentunya, tingginya tidak berubah.


Yeah, Pa, no matter how tall I've grown, you're always someone I look up to. :)


Sebenarnya, tidak ada alasan khusus aku menulis ini. Tapi inilah topik yang paling kukuasai. Tak pernah bosan aku menulis tentang papa. Papa, seperti apapun dia, tak pernah lepas dari otakku, juga hatiku. Tak heran, apapun yang kucoba tulis, ujung-ujungnya mengarah ke papa.

Sekarang, anak perempuan di seberang mejaku sudah pergi, papanya juga. Tapi aku masih di sini, mengakhiri kalimat terakhir tulisan ini. Yang lagi-lagi, tentang papa.

Pasar Festival, Sabtu, 17 April 2010. 17:01

*Ditulis oleh Viona Patricia, kunjungi cerita lainnya di sini: http://alwaysviona.blogspot.com/

Menulis Papa

Menulis itu mencintai
Menulis hujan berarti mencintai hujan
Menulis awan berarti mencintai awan

Menulis papa
Mencintai papa
Gampang-gampang susah

Gampang karena banyak yang bisa ditulis
Tinggal memutar memori tentangnya
Susah karena memori itu membuatku sedih
Lebih banyak menangis daripada menulis

Air mataku berjatuhan laksana hujan
Tapi selalu ada awan yang menghapus air mataku di pipi
“Tak usah menangis,” katanya, “Kenangan ada bukan untuk membuatmu menangis, tapi semakin mencintai.”

Awan benar
Mengenang papa berarti mencintai papa
Dengan menulis aku mengenang papa
Mencintai papa

*Ditulis oleh Rie Yanti, kunjungi cerita lainnya di sini: http://ceritarie.wordpress.com/

Letter for you

hari itu aku membersihkan semua ujung rumah
aku tau itu yang selalu ingin kaulakukan namun tak pernah sempat
aku mencoba dari titikyang paling berantakan
aku bereskan dan aku tumpuk-tumpuk

sekantong surat-surat itu menarik perhatian ku
selain karena dia tebal, dia juga berat
hemmmm...
ini hanya kantong tapi
aduh isinya banyak sekali

kucoba untuk membukanya
astaga !!!
lucu sekali
semua data dan surat-surat
bahkan bon rumah sakit tempat aku lahir
hihihihihihi
lucu...

karton pink kecil ini, apa ya???
ahhhhh tapak kaki ku waktu bayi
wowwwww
menarik
surat-surat ini semua kau simpan dengan rapi
hampir 25 tahun
dan baru kulihat sekarang???

wow
semua kenangan dan cerita masa kecil ku ada disana
seandai nya aku bisa membuka ini bersama mu
tidak akan pernah berhenti aku memelukmu
tidak akan cukup rasa kaum dan sayangku
cinta kepada mu membuatku gila

kau begitu
begitu..
aku bahkan tak tahu kata-kata yang tepat

seandainya kau masih ada disini
seandainya kau bisa kugenggam

tapi aku tahu, semua tak mungkin
kau ada di atas sana
meski kau tak mampu kulihat
tapi kau ada disini, dekat sekali di hatiku
dan menemaniku kemanapun aku pergi..

papa
aku bahagia
aku bangga,
aku kagum
dan rasa itu tidak akan pernah pudar
seperti sayangmu yang tidak pernah luntur

Bandung, 16 April 2010

*Ditulis oleh Lucille Gunawan, kunjungi juga cerita Lucille lainnya di http://simplycille.blogspot.com/