Friday, March 25, 2011

Surat Untuk Ayah

Hening, hanya terdengar suara gemeretak lirih dari ujung rokok yang terbakar. Kau sangat menikmati setiap hisapan itu. Pandangan mu kosong, namun ku tahu banyak kata yang menari-nari didalam sana. Rambut mu kini semakin habis dimakan usia. Apa yang kau pikirkan ayah? Aku disini, aku selalu disamping mu, berbagilah dengan ku mungkin aku bisa mengurangi beban pikiran mu. Atau bisakah kau meluangkan sedikit waktu untuk mengingat kembali ke masa lalu? Disaat aku masih menjadi gadis kecilmu. Ya anggap saja ini sebagai penghibur mu, jujur aku sangat tidak suka melihat mu termenung seperti itu.
Aku yang penakut, aku yang terlalu ramah akan air mata.  Seperti yang pernah dikatakan alm.nenek, kalau perasaan ku sangat halus, aku gampang sekali menangis. Dulu kau senang sekali membuat ku menangis dengan cerita-cerita sedih mu. Aku masih ingat cerita-cerita mu itu ayah. Kau bercerita kalau kau pernah menjadi tukang parkir, tapi tidak ada satu orangpun yang memarkirkan kenderaannya di tempat mu. Kau sibuk memanggil orang-orang untuk parkir disana tapi tidak ada yang mau. Matahari begitu menyengat saat itu, kau haus, tapi kau tidak punya uang untuk membeli air mineral, lalu kau meminta segelas air putih kepada pedagang kaki lima yang ada disana, tapi apa yang kau dapat? Segelas air kotor bekas cucian piring. Seketika tetesan itu jatuh, aku berlari ke kamar dan menangis tersendat-sendat. Lalu kau datang menghampiri ku dan menggendong ku sambil berkata “kok nangis, ayah tidak apa-apa” aku memelukmu seerat mungkin, ku dengar tawa kecil dari bibir mu, dan tanganmu terus mengelus-elus rambutku.
Ah, tidakkah kau ingat itu ayah? Dan kau melakukan itu berulang kali. Ketika kita berkumpul diruang tamu, ketika tawa membahana diruang tengah itu, lalu tiba-tiba kau menceritakan itu kembali, dan pada saat itu juga aku langsung menutup telinga lalu mengomeli mu untuk berhenti bercerita. Umur ku masih 5 atau 6 tahun saat itu, dan dengan polosnya mempercayai cerita-cerita mu yang menyedihkan itu.
Apa itu? Apa yang ku lihat? Ah kau tersenyum! Aku berhasil membuat mu tersenyum. Bagaimana? Kau terhibur? Atau ingin aku bercerita kembali? Membuka cerita lama antara kau dan gadis kecilmu. Tapi sepertinya kau akan kelelahan membacanya, karena begitu banyak yang ingin aku ceritakan. Bagaimana kalau aku meminta sedikit waktu mu disore hari? Dengan secangkir teh hangat, dan dengan semangat aku bercerita kepadamu. Aku dapat melihat sorot mata mu dengan jelas, yang biasanya hanya melihat mu dari kejauhan duduk termenung sendirian. Dan aku juga dapat langsung memelukmu ketika mata ini tak mampu menahan air itu jatuh ketika bercerita.
Sekarang gadis kecilmu telah beranjak dewasa, dan akan ada seseorang yang akan menggantikan mu kelak. Seseorang yang akan menjaga gadis kecilmu yang dulu. Dan jika Tuhan berkehendak, aku ingin kau dapat melihat cucu-cucu mu yang lucu nantinya. Lalu kau akan menceritakannya kembali kepada mereka, sama seperti yang kau lakukan kepada ku. Kita semua berkumpul, dan serentak tertawa melihat cucu mu yang terisak menangis mendengar cerita mu.
Hah.. sepertinya aku sudah terlalu banyak berkata-kata. Kasihan mata mu, pasti dia sudah lelah membaca. Baiklah ayah, aku akan menunggu sore itu, tidak harus esok atau lusa, tapi kapanpun itu ketika kau ada waktu aku pasti bersedia dan bersemangat untuk berbagi cerita denganmu.
Ayo seka air mata mu, tersenyumlah, aku menulis ini bukan untuk membuat mu menangis :) .

AKU SAYANG AYAH

(ditulis oleh Yu Ra di http://cahaya-cendrawasih.blogspot.com/2011/03/surat-untuk-ayah.html) 

Dia yang Kusebut Ayah

Ayah..
            Hampir dua puluh tahun, sekarang usiaku hampir dua puluh tahun Yah. Gadis kecilmu ini sekarang sudah menjelma menjadi perempuan dewasa yang berusaha untuk menjadi kebanggaanmu. Masih teringat jelas di dalam kantung memoriku. Disaat aku kecil dulu, dirumah sederhana kita yang masih kita tempati sampai sekarang bersama ibu dan saudara-saudaraku. Kau sering sekali mencandaiku. Berpura-pura kerasukan setan lalu mengejarku, hingga aku lari kepangkuan ibu. Lalu kau akan tertawa puas, lalu dengan semangat menggendong dan melempar-lempar tubuh mungilku ke udara . Aku merasa kesal sekali padamu, sekaligus sangat sayang. Tak cukup dengan itu, kau lalu menciumku tanpa ampun.

            Atau, apakah kau ingat kejadian di kebun binatang dimasa lalu? Kita sekeluarga pergi kesana. Entah dalam rangka apa, aku lupa. Kira-kira usiaku 4 tahun kala itu. Aku semangat sekali memperhatikan hewan-hewan yang baru pertama kali ku lihat secara langsung. Sehingga aku tidak sadar kalau kau pergi entah kemana. Lalu aku menanyakan keberanaan mu pada ibu. Ternyata ibu juga tidak tahu, dia terlalu sibuk mengawasi aku dan kakakku. Aku benar-benar takut kala itu. Kukira kau menghilang, aku menangis sekencang-kencangnya. Sambil tersedu-sedu aku terus memanggilmu. Seketika kau muncul di hadapanku. Aku langsung mendekapmu dan memintamu untuk menggendongku. Wajahmu sungguh bingung, dan ibu menjelaskan kenapa aku begitu. Saat itu kau langsung menciumiku, dan mengatakan, ”Aku disini nak. Jangan takut, aku tidak akan meninggalkanmu.” 
Dan sampai saat ini kau memang menepati janjimu.

            Kini tubuhmu tidak sesegar dulu. Waktu tlah membuatnya layu. Mungkin juga karna keadaan kita tak sebaik dulu. Tahun 1998, dimana pergolakkan terjadi di negri ini. Ketika pekerjaan tak semudah dulu menghampirimu. Kau memilih berhenti. Dan keadaan berubah. Kau mulai menjual mobil kita, dan uang tabungan yang kau punya juga semakin lama semakin habis. Kau mulai mencari akal untuk menghidupi keluarga kita, dari membuka perkebunan pinang, perkebunan cabai, peternakan ikan dan semuanya tidak berjalan lancar. Pada saat-saat itu kau jarang berada dirumah. Kau pergi untuk waktu yang lama, sekitar sebulan atau dua bulan. Aku sangat merindukanmu kala itu. Hingga pada akhirnya kau memutuskan untuk membuka usaha kecil. Meski tidak bisa membuat kita merasakan kenyamanan seperti dulu. Tapi setidaknya itu masih mampu menopang kebutuhan kita sehari-hari. Dan aku, aku masih bisa merasakan bangku kuliah. Dan aku sangat bersyukur akan itu.

            Kini aku menjelma menjadi gadis yang mempesona (itu kata-kata orang loh :D). Banyak teman laki-laki yang mulai datang ke rumah. Dan aku selalu tertawa geli sekaligus ngeri melihat ekspresimu. Ekspresi yang mengatakan, ”Hei, jangan macam-macam dengan putriku!”  Kadang aku kesal sekali padamu, karna melarangku untuk pergi dengan teman lelakiku. Sepertinya kau tahu itu, lalu dengan pelan kau mengatakan ini padaku. ”Bukannya ayah tidak percaya padamu. Hanya saja, biarkan dulu ayah mengenalnya, biarkan dia sering-sering dulu datang ke rumah kita. Bukanny kenapa-kenapa, ayah hanya ingin menjaga kehormatanmu. Agar ia tau, bahwa tidak sembarangan pria yang bisa membawamu keluar dari rumah ayah.”
Saat itu rasanya aku ingin langsung memelukmu Yah. Aku mencintaimu, sungguh!
            Semoga Tuhan berbaik hati untuk memberi rezeki waktu pada kita. Hingga kau bisa melihat kelulusanku. Melihat aku menikah, menjadi waliku. Melepaskan aku pada laki-laki yang ku yakini mampu membahagiakanku. Dan tentunya kau juga yakin kalau dia adalah yang terbaik untukku, hingga kau tak perlu merasa khawatir melepas gadis kecilmu . Dan akhirnya aku bisa melihatmu bermain dengan anak-anakku, cucumu. Akh, ku harap Tuhan mengizinkan itu. Semoga....

(ditulis oleh Delya Upha di http://adhisya-adarahasia.blogspot.com/2011/03/dia-yang-kusebut-ayah.html) 

(Tak ada Judul-nya)

len kangen..
len rindu..
Pakabarmu Pa? Uda berapa tahun ga ketemu.. :(
(wah rasanya ga sanggup untuk lanjutin ini.. Nangis deh haiyaaa..)

Jalan 5 tahun.. Since the last time I saw him ..

Hmmm,bau khas keringatnya sewaktu pulang di siang hari ke rumah untuk makan siang, berkacamata, wajah hitam legam karena sengatan matahari, cape kayaknya, parkir motor kymco matic nya, langsung ambil handuk dan mandi .. Kebayang deh segarnya tuh ( secara air di rumahku lumayan dingin ).
Makan malam...
"Len.. Ayo turun makan yuk, ada sayur kesukaan mu, cepatan ya "
(suara Papa memanggil ku untuk turun dari kamarku di lantai 2 ) , "iya Pa. (jawabku)
....Tiapkali mao makan pasti Papa selalu ingat memanggilku jg, maybe because only me yg masih stay di rumah (secara masih single,yg lain udah merit semua)

Kring..kring.. "Hallo..papa ya? Jemput len di depan bugel, len udah deket nih "
Asap rokok aku hirup..uhuk uhuk..duh Papa kok bisa ya sambil bonceng Len sambil megang rokok di jari kanan? "Hahaha.. (tawa renyah nya..) Iya donk.."
(sudah 5tahun ini aku ga ngerasain di jemput lg ama Papa, sumpah kangen sekali.. ) Apalagi kalo lihat orang yang menelepon papa nya minta di jemput, rasanya iri banget..
(airmata..mengalir..)

"Aduh..aduh Len..sakit..sakit.. " (rintihan papa di ranjang RS) , sudah hampir seminggu perut papa sakit, ga jelas penyakit apa, papa cuma seperti sakit maag kayaknya, dan aku jarang di rumah,sehingga tidak tau persis, sampai suatu hari aku bawa papa ke RS terdekat, dan tidak terlalu menolong, secara papa cuma banyakan di diamkan menahan sakitnya itu, ga tau .. Bukankah mereka lebih ngerti harus gimana, dan obat nya apa, dan dokter yang merawatpun cuma bilang " ya kalau sudah kehendak-Nya kami pun tidak bisa berbuat lebih lagi" (marah setengah mampus aku,dalam hatiku..dokter sialan yg tak punya etika dan hati ! ) ... Airmata mengalir..
Aaaahhh.. :(

Jam 13.00... Adalah waktu kepergian papa menghadap Ilahi, ya.. Papa meninggalkan aku.. Persis di dalam pelukan ku..

"Papa..(tertidur) (koma) , jangan tinggalkan Len, Len mana bisa sendiri di dunia ini, Mama udah ga ada, Len sendirian donk di rumah.. Len belum kawin, Len belum kerja dan belikan papa macam-macam.. Len belum sempat memberikan apapun untuk papa.."
Semenit.. Dua menit.. 15menit..
Nafas papa tetap cuma seperdetik sekali.. (cuma tinggal melepaskan saja)
"Baiklah..Len menyerah.. (Bisikkan di telinganya) Papa boleh pergi, Papa boleh tinggalin semuanya, Len tau papa sudah capek kan?papa sudah terlalu lama kerja dan capek sekali,dan sakit itu sungguh menyiksamu kan? Pergilah.. Len dan semuanya akan ikhlaskan, Len,... (sambil menyebutkan nama-nama anak papa yg lain) sampaikan maaf dan mohon ampun luar biasa untuk semua kesalahan kami..
Dan yang terakhir yg ku bisikkan adalah Doa Bapa Kami.. Terang itulah yang harus Papa tuju .. Rumah terang itu dia tempatnya Pa..

I Miss You So Much.. Papa..
(airmata mengalir deras)(sambil mendengarkan lagu nya Eric Clapton)

....would you know my name, if I saw you in heaven.. Would it be the same.. If I saw you in heaven...
....would you hold my hand, if i saw you in heaven......... 






Best Regards,

Amanda Lenny



(ditulis oleh Amanda Lenny)

Dia

Lelaki itu adalah dia yang saya panggil "ayah"
yang tidak pantas saya panggil ayah.. 

Lelaki itu adalah dia yang saya panggil "ayah"
yang seharusnya bersikap layaknya seorang ayah..

Lelaki itu adalah dia yang saya panggil "ayah"
dan tidak pernah bersikap layaknya ayah..

Lelaki itu adalah dia yang saya panggil "ayah"
yang satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas hancurnya hidup saya..

Lelaki itu adalah dia yang saya panggil "ayah"
orang yang paling saya benci..


Lelaki itu adalah dia yang saya panggil "ayah"
dia hanya lelaki yang memberikan sperma ke dalam rahim ibu saya,
dan tidak pantas untuk saya panggil "ayah"


(ditulis oleh Dency Kharina Dewi di http://catatankata.blogspot.com/2010/07/dia.html)


Pria Luar Biasa itu Papaku

papa...
saya punya tumpukan kenangan bersamanya
saya punya rentetan mimpi untuk diwujudkan bersamanya
seperti banyak anak perempuan lain, buat saya papa adalah cinta pertama dan cinta sejati
dan saya selalu bilang.. "laki-laki yang ingin jadi suamiku kelak, harus seperti papa"
papa adalah yang kedua yang sangat saya cintai setelah Allah..
saya masih ingat bagaimana papa membuatkan mainan berbentuk jam untuk mengajari saya cara membaca jam
papa membuatkan saya banyak gambar indah untuk mengajari saya mengenal warna
dia tidak pernah mengecewakan

papa tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan apapun
termasuk saat dokter menyatakan, saya positif terkena leukimia stadium dua
papa dengan tenang mengenggam tangan saya dan menenangkan saya yang menangis terus menerus
dengan sangat tenang, papa bilang " tenang sayang, ini tidak sesakit ketika kamu diimunisasi"
waktu saya sering muntah karna rasa mual setelah kemo, papa tanpa jijik membersihkan wajah saya dan memeluk saya yang tidak berhenti menangis
ketika saya ingin menyerah dan ingin semua itu dihentikan papa bilang,
"papa mohon, untuk pertama kalinya papa mohon sama kamu, jangan putuskan takdir papa untuk memiliki, merawat, membesarkan dan mengantar kamu menjadi orang hebat, papa ingin jadi wali dan menikahkan kamu suatu hari nanti"

tiap kali saya ingin menyerah saya selalu ingat wajah letihnya yang tidak pernah menyerah untuk mengusahakan kesembuhan saya
dan kesembuhan itu ternyata bisa saya raih
lewat papa, Tuhan memperpanjang kontrak hidup saya


sekarang saya jauh dari papa
sangat jauh
seperti keinginannya..
saya sedang berjuang untuk jadi orang besar
orang besar menurut versi kami..
orang besar di hati kami masing-masing
rindu saya berlipat-lipat tiap hari
saya tau papa juga rindu
tapi dia hampir tidak pernah menelpon saya
mama bilang dia selalu menangis tiap telpon
dan dia tidak ingin saya tahu bahwa dia sangat mengkhawatirkan saya


kalau saja ada mesin waktu, saya ingin menebus segala kekecewaan yang sudah dia rasakan karena saya..
kegagalan pertunangan saya
dan banyak hal..
maafin utik pap..
atas semua kebodohan yang sudah utik lakukan dan menyakiti papa
atas segala kesalahan yang membuat papa kecewa
atas semua rasa khawatir yang papa rasakan karna utik
atas semua tangis papa yang sempat tumpah karna utik
ah.. pap..
rasanya baru kemarin papa menggendongku di punggung 
rasanya baru semalam papa mendongeng cerita si ande ande lumut
rasanya baru tadi pagi papa mengantarku sekolah di hari pertama
dan sekarang aku hampir 25 tahun
sekarang giliranku menjaga papa
merawat dan membahagiakan papa..
terima kasih pa, untuk semua waktu yang sudah papa korbankan untukku
aku mencintai papa..
lebih dari apapun..
dan aku janji..
akan kupertaruhkan apapun
demi melihat papa tetap tersenyum dan tertawa bahagia di masa-masa senja papa nanti..

untuk papa yang tidak pernah berhenti kucintai dan mencintaiku..

(ditulis oleh Putri Utik di ceritaudaradankita.blogspot.com)

Hay Pa, Aku sudah 22 tahun dan merindukanmu!

” Hay pa , aku sudah umur 22 tahun dan aku merindukanmu “ , itu kata-kata yang tidak pernah aku katakan dan selalu ingin aku katakan pada papa . Kedewasaan dan kepribadian atas pola pikir dan tingkah lakuku tidak lepas dari kebijaksanaan dan ketegasannya selama 22 tahun , meskipun 8 tahun belakangan ini beliau mendidik kedua dari ketiga anaknya hanya by phone . Yah , aku dan kakak laki-lakiku yang sejak umur 15 tahun dilepaskan untuk belajar hidup mandiri jauh dari orang tua di pulau yang berbeda dengan memberikan kepercayaan penuh pada anak-anaknya tanpa rasa curiga sedikitpun .
Sedih memang disaat aku membutuhkan sentuhan , perlindungan , support , dan kasih sayangnya secara nyata layaknya anak umur 5 tahun yang jatuh untuk mencoba belajar dari sepeda pertamanya dan membutuhkan permen , kecupan dan pelukan yang secara tidak langsung memberikan perlindungan secara utuh . Itu yang sering aku rasakan disaat aku down atas segala situasi yang bisa membuat aku tertekan dan merasa kasih sayang orang tua secara nyata lebih dari segala-galanya bahkan lebih dari sekedar materi . Disaat seperti itulah ingin rasanya aku berontak dan ingin memberitahukan bahwa aku tidak butuh materi tapi aku butuh mereka ada sekarang disampingku . Terdengar egois memang , tetapi itu yang aku rasakan sebagai seorang anak yang akan selalu terlihat seperti anak kecil di  mata orang tuanya .
Kejadian yang aku alami kurang lebih lima bulan yang lalu telah menghancurkan kepercayaan papa ke aku selama hampir 8 tahun ini . Aku tertekan dan merasa dihina dan aku berusaha untuk menceritakan kepada papa melalui telepon dan meminta perlindungannya sambil menangis . Ekspresi papa saat itu tidak seperti yang aku duga , aku merasa tertampar dengan kata-katanya .
” Kamu kenapa ? nangis sesenggukan kaya gitu buat orang yang menurut papa ga penting buat hidupmu , pernah kamu nangisin orang tuamu ? nangis kaya gitu buat papa ? buat mama ? Ternyata papa salah menilaimu , papa kira anak perempuan papa bisa hidup mandiri , bisa dipercaya ternyata cuman sekedar masalah kaya gini aja kamu sudah drop . Disa anak papa yang papa kenal selalu ceria , kuat , bukan cengeng kaya gini . “
Entah kenapa mendengar kata-kata papa disaat aku lagi tertekan seperti itu seharusnya aku lebih kecewa tetapi aku merasa sebaliknya aku merasa lebih kuat dan lebih punya semangat . Aku merasa terlindungi . Aku merasa dikasihi meski aku telah mengecewakan dan menghancurkan kepercayaannya . Dari situlah aku aku mengerti bahwa tanpa sentuhan kasih sayang secara nyata , tanpa perlindungan dari pandangan mata secara langsung , tanpa didikan kata-kata setiap hari papa selalu memperhatikan aku dari ceritaku , dari gaya bahasa dan nadaku aku berbicara kepadanya melalui telepon dan dari situ papa lebih bisa mengenal aku daripada siapa pun bahkan dari diriku sendiri . Apa yang aku rasakan disaat aku membutuhkan mereka  ternyata mereka juga merasakan hal yang sama bahkan mungkin lebih dari yang aku rasakan . Papa selalu punya kelebihan di mataku meski tidak luput banyak kekurangan di diri beliau tetapi aku akan selelu bisa menerima papa apa adanya dan apa pun keadaannya . Aku percaya bahwa seluruh anggota keluargaku , mama , mas , adek juga merasakan hal yang sama . Kita akan selalu jatuh hati pada papa . I love you my best guy ..
Love,
Acid
(ditulis oleh @claradiza di http://claradisa.tumblr.com/post/4076992885)

Jumat, Sore itu

Umurku delapan tahun waktu itu. Sekolah di salah satu sekolah dasar terbaik di kotaku. Papaku bukan orang kaya. Hanya seorang pegawai kecil, dengan hati besar. Ketika anak-anak lain di jemput dengan mobil, aku bangga di jemput dengan motor butut milik kantor. Ketika anak-anak lain dijemput dengan sopir, aku bangga di jemput papa di sekolahku. 
Uang sekolahku mahal. Papa harus banting tulang apalagi gaji pegawai negeri sangatlah kecil. Malam-malam papa mesti merakit, menyusun balok-balok kayu menjadi lemari, kursi, meja rias, sesuai pesanan orang. Subuh papa sudah harus bangun, memberi makan ternak miliknya, yang tak seberapa. 
Jumat, sore itu. Hujan mengguyur deras kotaku. Aku menggigil di gerbang sekolah. Menunggu jemputan, papaku tentu saja. Setengah jam menunggu, papa belum juga datang, ah, hujan deras tentulah menghalanginya. Sekolah mulai sepi. Angin makin kencang, hujan makin deras. Aku mulai ketakutan. Airmata menghangat di sudut mata. Sungguh, aku ketakutan. Papa belum juga muncul.
Lalu. Dari kejauhan kulihat motor butut papa, berwarna merah tua, yang berjalan pelan seperti sepeda. Itu dia, jemputanku. Lalu, papa membungkusku dengan plastik besar, bukan jas hujan,. Hanya plastik besar bekas bungkus furniture. Memakaikan helmnya untukku. Membiarkan tubuhnya di jamah hujan. Sungguh, aku tak perlu mobil. Sungguh aku tak perlu jas hujan. Sungguh aku tak perlu rumah hangat nan mewah. Sungguh aku tak butuh apapun. Aku hanya butuh dia, lelaki sempurna, papaku. 
Ya, Jumat sore yang hangat, belasan tahun lalu. Jumat sore yang hangat, walau hujan mengguyur hebat. Jumat sore yang hangat, karena cintanya. Papaku.

(ditulis oleh @ama_achmad di http://amaachmad.blogspot.com/2011/03/jumat-sore-itu.html?spref=tw)